Jiwa Kuat dan Dinamis dengan Bersabar

 
Orang yang kuat, yang kuat mengendalikan ketika marah

Senin, 07 Mei 2012

ORANG  yang kuat bukanlah orang yang memiliki badan kuat, pintar bergulat dan bersilat. Tapi orang yang kuat adalah orang yang jiwanya kuat. Sebab, jiwa yang kuat itu mempu membuat cara agar hati, fikiran dan badan tahan menghadapi tekanan. Sebaliknya, dalam jiwa yang lemah terdapat sifat-sifat merusak; putus asa, malas dan negative thinking.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: ”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang menguasai jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari). Kemampuan untuk menguasai jiwa dan mengendalikannya itulah yang disebut sabar.
Sabar berasalah dari bahasa Arab shobaro – yang makna aslinya adalah menahan atau mencegah dari sesuatu. Dalam istilah ia dimaknai sebagai kemampuan jiwa untuk menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Dari definisinya tersebut saja, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sabar, bukan identik dengan kepasrahan, ketidak mampuan atau pasif merespon peristiwa tertentu. Justru, sifat sabar memberi perintah untuk berbuat aktif-positif, merubah pandangan jiwa untuk melakukan kebaikan.
Orang yang mengendalikan jiwa emosional, misalnya membutuhkan tiga anggota tubuh; kerja akal, hati dan fisik. Akal harus mengarahkan, hati harus beriman dan fisik dikendalikan oleh keduanya untuk membalik jiwa negatif menjadi aktifitas yang bermanfaat. Tentu ini bukan kerja biasa.
Kekuatan menahan diri dari musibah atau kegalauan nasib biasanya dimiliki oleh orang-orang shalih. Ketika ada musibah, hatinya langsung terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak menyorot kepada siapapun, tapi diterimanya sebagai sebuah peringatan-Nya. Karena merasa diperhatikan – dengan diberi peringatan oleh Allah itu – hatinya akan digerakkan untuk berbuat lebih baik lagi, bukan diam diri, pasrah menerima tanpa berbuat apapun. Atau tidak membalasnya dengan perbuatan buruk pula, tidak mengumpat Allah, dan jiwanya sama sekali tidak goyah untuk tetap berada di jalannya – tetap mengharap ridla-Nya (Abu Bakar al-Jazairi, Minhajul Muslim,118).
Maka dari itu, sifat sabar tidak mungkin ada kecuali dalam diri orang beriman. Orang sekuler – yang tidak menjadikan Tuhan tempat menggantungkan – pasti tidak sabar. Imam al-Ghazali mengatakan sebagai sebuah ruang di antara ruang-ruang agama yang tinggi. Tidak akan tertanam kecuali kepada orang yang mengenal Allah (al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin 4, hal. 61).
Bahkan sabar adalah bagian dari iman (syathrul iman). Berarti orang yang tidak bersabar, imannya belum sempurna. Hal itu telah disinggung oleh Allah dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu.” (QS. Ali Imran: 200). Ketika kita tidak kuat – dalam menahan dari emosi, kegalauan hidup dan musibah yang menimpa – maka kita dikategorikan orang yang lemah. Tidak saja lemah jiwa tapi juga lemah iman.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Sabar ada tiga macam. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah.
Sabar dalam ibadah merupakan sabar yang paling sulit. Dari kesabaran menjelang ibadah sampai usai menunaikan ibadah. Menjelang ibadah, sabar berkait dengan niat. Ketika sedang beribadah kita diuji kesabaran agar selalu ingat kepada-Nya tidak kepada lainnya. Dan usai beribadah tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
Perjuangan seperti itu digambarkan oleh Imam al-Ghazali. Bahwa menjelang sampai usai ibadah, jiwa kita terus-menerus diserang oleh penyakit yang bernama riya’. Jika tauhid kita lemah, maka jiwa kita pun pasti lemah, menyerah oleh serangan riya’ (al-Ghazali, Muhkhtashar Ihya’ Ulumuddini). Dalam beribadah, seseorang kebanyakan ingin menjadi riya’. Jika kita bersabar dengan ini, maka pertahanan iman kita jebol. Ibadahpun sia-sia. Sebab ibadahnya tidak dipersembahkan kepada Allah lagi tapi kepada yang lainnya.
Yang paling berat justru ketika usai beribadah. Serangan riya’ lebih dahsyat. Terkadang kita ikhlas selama ibadah tapi jatuh ketika ibadah telah kita tuniakan bebarapa waktu yang lalu. Maka, bersabar dalam konteks ini adalah menahan diri untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
Ada korelasi antar tauhid dan kekuatan jiwa. Orang bertauhid adalah yang segalanya bersandar kepada Allah dalam memandang realitas. Lawannya adalah madiyah (materialis/sekular). Kata al-Ghazali, orang yang menyandarkan kepada materi (I’timad ‘ala jamadat), pasti akan jatuh kejiwaanya. Karena materi tidak memiliki kuasa apa-apa. Sebaliknya, orang yang bertauhid tidak mudah goyah, sebab yang menjadi sandaran adalah Sang Maha Segalanya.
Sabar dari maksiat, yaitu menahat jiwa dan hati untuk tidak ghibah, dusta, dan perbuatan-perbuatan haram lainnya.
Sedang sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang dalam sebuah hadits diriwayatkan :Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah, ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama” (HR. Bukhari Muslim).
Lantas, bagaiman agar kita memiliki sifat sabar. Menurut Imam al-Ghazali untuk mencapai kesabaran yang tinggi memerlukan riyadhah (latihan). Paling penting dan utama dapat dilakukan dengan merenungkan kempali hakikat hidup di dunia dan akan kemana setelah hidup ini. Memikirkan nasib diri untuk tujuan hidup itu. Nafsu perlu bermujahadah, dimulai dari hal-hal ringan. Misalnya belajar menahan diri untuk menuruti keinginan memakan makanan mahal yang lezat, membeli pakaian mahal, dan hancurkan nafsu dari kemalasan. Jika sedang malas, maka bangkit, ambil wudhu, shalat dua rakaat dan mulailah aktifitas.
Maka ketidak sabaran harus diantasipasi sejak dini. Ingat, orang bersabar tidak akan ditinggalkan Allah. “Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Anfal:46). Oleh sebab itu, hidupnya lebih tenang, dinamis positif, dan segala realitas selalu dipandang dengan kacamata iman.*/Kholili Hasib 


sumber: hidayatullah.com




Share your views...

0 Respones to " "

Posting Komentar

 

About Me

Pengikut

© 2010 RAZHIB All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors.info